Waktu kecil sekitar umur lima atau enam tahunan pastilah banyak orang yang menanyakan " Mau jadi apa kalau besar nanti ? " . Setiap bertemu dengan banyak orang pastilah pertanyaan itu menjadi pertanyaan favorit . Saat ditanyakan pertanyaan tersebut , kebanyakan anak akan menjawab " Aku ingin jadi dokter " Tapi tidak dengan aku . Aku selalu menjawab " Aku ingin jadi pelukis " 4 kata yang kurangkai menjadi sebuah jawaban itulah yang selalu aku katakan . Ke 4 kata itu sudah tidak bisa di tawar lagi dalam benakku . Padahal orangtuaku berharap aku menjawab seperti anak - anak lainnya . Entah...apa yang ada didalam pikiranku , tetapi aku mengutarakan keinginanku dari dalam hati yang paling dalam . Hingga akhirnya kelas 5 SD aku merubah keinginanku . Aku ingin menjadi seorang Atlet bulutangkis . Hal itu membuat kedua orangtuaku langsung menolak mentah - mentah keinginanku .Tanpa pikir panjang mereka mengatakan " TIDAK " .Aku yang saat itu benar - benar serius mendalami dunia bulutangkis nekad tanpa sepengetahuan orangtuaku berlatih bulutangkis sendiri . Akhirnya aku sadar bahwa untuk menjadi atlet diperlukan sebuah modal untuk masuk kedalam klub , tetapi aku berpikir lagi , tanpa uang orangtuaku aku tidak mampu membayar uang masuk klub bulutangkis . Apa yang bisa aku lakukan untuk mendapatkan uang sendiri ? Apalagi aku hanya anak kelas 5 SD pastilah sulit . Peluangku untuk melanjutkan mimpiku pun tertutup rapat tanpa cela .Kegemaranku menonton Sepak Bola membawaku kedalam mimpi baru . Aku kembali membuka mimpiku . Aku ingin menjadi seorang wartawan Sepak Bola . Alasannya hanya satu aku memilih profesi tersebut , agar bisa bertemu pemain idolaku dan bisa meminta foto serta tandatangannya . Mimpi itu tidak bertahan lama akupun bermimpi untuk terjun menjadi seorang politisi . Restu itu kembali manghalangiku untuk menggapai impian . Orangtuaku tidak mau mengambil resiko yang terlalu berbahaya untuk anak peempuannya . Dengan alasan " Yang benar bisa menjadi salah dan Yang salah bisa menjadi benar " adalah ketakutan utama mereka berdua .
Menginjak remaja aku memberontak tanpa disengaja aku sangat menyukai dunia pertelevisian dan aku ingin sekali menjadi BROADCASTER yang handal . Untungnya orangtuaku setuju jadi aku tidak perlu merubah keinginanku . Mimpi itu bertahan 2 tahun lamanya hingga aku akhirnya merubah kembali keinginanku . Melihat banyak anak - anak jalanan , ingin mengungkapkan sesuatu kepada oranglain , ingin merubah dunia , dan ingin membuat orang - orang sadar akan lingkungan sekitarnya adalah awala dari mimpi baruku . Aku berpikir bagaimana hal tersebut bisa aku wujudkan . Pemikiran yang cukup rumit . Jawaban itu muncul ketika aku menonton sebuah film . Ya , FILM !!! Aku bisa mewujudkannya melalui FILM .Sungguh tak disangka - sangka terjun ke FILM adalah menjadi mimpi terakhirku hingga detik ini . FILM sebuah dunia yang tidak pernah terbesit dalam pikiranku , dunia yang langka ,dunia yang memerlukan hati , pikiran dan rasa .Walaupun aku sadar orangtuaku tidak menyetujuinya aku tetap akan terus berjuang utnuk mewujudkannya . Karena FILM adalah sebuah " PILIHAN HIDUP " .











